Rolenbro The Rsfence: Ketika Kampus Menjadi Panggung untuk yang “Berbeda”

Pernahkah kamu bertemu seseorang yang namanya terdengar seperti karakter fiksi, tapi nyatanya benar-benar ada dan justru mengubah cara pandangmu tentang kuliah?

Aku pertama kali dengar nama “Rolenbro The Rsfence” di sebuah grup WhatsApp calon mahasiswa baru. Awalnya kukira itu nickname iseng, mungkin akun spam atau joke kampus. Tapi ternyata, Rolenbro beneran ada. Bukan cuma ada tapi jadi semacam legenda diam-diam di kalangan mahasiswa baru jurusanku.

Siapa Sebenarnya Rolenbro The Rsfence?

Nama aslinya sebenarnya sederhana: Rolen. Tapi panggilan lengkapnya Rolenbro The Rsfence—lahir dari kebiasaannya yang unik: dia selalu “memagari” (bahasa Inggris: fence) ide-ide konyol dengan logika tajam. Kalau teman-teman diskusi di kafe kampus hanya asal ngomong, Rolenbro selalu punya argumen terstruktur, data pendukung, bahkan analogi dari film The Matrix atau serial Black Mirror.

Dia bukan mahasiswa teladan versi birokrasi kampus IPK-nya biasa saja, sering telat bayar UKT, dan pernah dua kali gagal ujian tengah semester. Tapi yang bikin dia beda: konsistensi dalam keanehannya.

Rolenbro percaya bahwa kuliah bukan cuma tentang nilai, tapi tentang cara berpikir. Dan cara berpikirnya? Suka bikin dosen geleng-geleng tapi kadang malah dipanggil jadi asisten riset.

Pengalaman Pertama Bertemu: Bukan Seperti yang Kukira

Aku mengenalnya di minggu kedua kuliah. Sedang duduk sendirian di taman fakultas sambil membaca buku Sapiens sambil ngemil keripik singkong dan tiba-tiba nyeletuk ke arahku:

“Menurut lu, apa bedanya kuliah sekarang sama ritual suku primitif zaman dulu?”

Aku terdiam. Bukan karena pertanyaannya aneh, tapi karena caranya ngomong serius banget padahal mulutnya penuh keripik.

Dari situlah obrolan mengalir: tentang tekanan masuk PTN, stigma jurusan “nggak laku”, sampai kekhawatiran lulus tanpa arah. Rolenbro nggak memberi solusi instan. Tapi dia bilang satu hal yang kuingat sampai sekarang:

“Kampus itu bukan tempat cari jawaban. Kampus itu tempat lu belajar nanya dengan cara yang bener.”

Kalimat itu sederhana, tapi bagi calon mahasiswa yang baru lepas dari tekanan SBMPTN kayak aku, rasanya seperti mendapat izin untuk nggak harus jadi sempurna.

Kenapa Rolenbro Penting untuk Calon Mahasiswa?

Kalau kamu sekarang lagi bingung:

  • Mau pilih jurusan apa
  • Takut salah ambil kampus
  • Khawatir nggak bisa bersaing
    maka Rolenbro adalah representasi nyata bahwa ada ruang untuk yang “nggak biasa” di dunia perkuliahan.

Dia nggak jago presentasi, tapi tulisan blog-nya pernah dibaca rektor. Dia nggak ikut organisasi kampus, tapi sering jadi mentor diam-diam buat junior yang depresi akademik. Dan yang paling menarik: dia nggak pernah memaksakan diri jadi “role model”.

Justru itu yang bikin dia autentik.

Beberapa Hal yang Bisa Kamu Pelajari dari Rolenbro

  • Keterlambatan nggak selalu berarti kegagalan
    Rolenbro baru bisa lulus tepat waktu setelah mengulang mata kuliah tiga kali. Tapi dia pakai waktu itu buat riset kecil-kecilan tentang sistem pendidikan alternatif—yang akhirnya jadi bahan tesisnya.
  • Jaringan nggak harus formal
    Dia kenal banyak dosen bukan karena aktif di himpunan, tapi karena sering ngobrol di kantin. “Orang lebih terbuka kalau lagi makan,” katanya sambil ketawa.
  • Kegagalan bisa jadi bahan bercerita yang kuat
    Presentasi paling viral di jurusanku bukan yang dapat nilai A, tapi yang Rolenbro buat setelah gagal total di ujian lisan. Dia tampilkan proses kegagalannya—dan itu menginspirasi banyak orang.

Dunia Kampus Lebih Luas dari Nilai di KHS

Salah satu mitos terbesar yang Rolenbro hancurkan adalah: “Kalau IPK-mu di bawah 3.5, masa depanmu gelap.”

Faktanya, banyak perusahaan mulai melirik portofolio, cara berpikir, dan soft skill. Dan Rolenbro dengan segala keanehannya diterima magang di startup edtech ternama, justru karena esai reflektifnya tentang “kegagalan akademik sebagai bahan belajar”.

Bagi calon mahasiswa, ini penting diingat:

Kamu nggak perlu jadi versi sempurna dari orang lain. Kamu cuma perlu jadi versi paling jujur dari dirimu sendiri.

Apakah Rolenbro Masih Ada di Kampus?

Kabarnya dia sekarang sedang cuti untuk proyek sosial di pedalaman Kalimantan—mengajar anak-anak desa pakai metode gamifikasi. Tapi jejaknya masih terasa. Di grup angkatan, kadang muncul quotes-nya yang jadi semangat. Di kantin, masih ada yang menyebut “gaya Rolenbro” ketika ada yang bertanya sesuatu dengan logika nyeleneh tapi masuk akal.

Dan yang paling keren? Namanya jadi semacam simbol:

Bahwa di tengah tekanan untuk “sukses standar”, tetap ada tempat untuk yang berani beda.

Jadi, buat kamu yang sekarang lagi galau memilih jurusan, takut nggak diterima lingkungan kampus, atau merasa “nggak cukup pintar” ingatlah Rolenbro The Rsfence.

Bukan karena dia hebat. Tapi karena dia berani tetap jadi dirinya sendiri di tengah dunia yang terus mendorong kita jadi versi yang “layak dicetak di brosur kampus”.

Kampus bukan tentang jadi sempurna.
Kampus adalah tentang jadi nyata.

Dan kadang, yang nyata justru yang “aneh”.